Makna Lafadz Thaharah Dalam Al- Qur’an Analisa Semantik Toshihiko Izutsu

Rosyada, Amrina (2022) Makna Lafadz Thaharah Dalam Al- Qur’an Analisa Semantik Toshihiko Izutsu. Diploma thesis, STIQ Isy Karima.

[thumbnail of 1. Cover.pdf] Text
1. Cover.pdf

Download (705kB)
[thumbnail of 2. BAB I.pdf] Text
2. BAB I.pdf

Download (243kB)
[thumbnail of 3. BAB II.pdf] Text
3. BAB II.pdf

Download (316kB)
[thumbnail of 4. BAB III.pdf] Text
4. BAB III.pdf

Download (350kB)
[thumbnail of 5. BAB IV.pdf] Text
5. BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (364kB) | Request a copy
[thumbnail of 6. BAB V.pdf] Text
6. BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (70kB) | Request a copy
[thumbnail of 7. Daftar Pustaka.pdf] Text
7. Daftar Pustaka.pdf

Download (153kB)

Abstract

Thahârah atau kebersihan merupakan salah satu unsur penting dalam perilaku
beradab. Islam menganggap kebersihan sebagai suatu sistem peradaban dan ibadah.
Karena itu, kebersihan menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari seorang
muslim. Penggunaan semantik dalam penelitian ini adalah karena semantik menduduki
posisi yang cukup relevan dalam konteks penerjemahan al-Qur’an. Penerjemahan
dengan metode semantik ini merupakan salah satu cara memahami al-Quran secara
tafsiriyah, dimana penerjemahan secara harfiyah terkadang menimbulkan kesalah
pahaman yang berakibat pada sikap dan pengamalan yang salah pula.Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode semantik Toshihiko Izutsu
terhadap kata Thahârah. Kata Thahârah berarti suci, bersih, lawan dari najis. Makna
dasar dari kata Thahârah adalah lawan dari haidh atau lawan dari najis. Sedangkan
makna relasionalnya secara sintagmatik Thahârah memiliki makna mandi dan zakat.
Adapun secara paradigmatik thahârah memiliki kesaman makna dengan zakâ dan
qaddasa. Sedangkan kata yang berlawanan adalah najis dan haidh. Makna historis
kata thahârah terbagi menjadi dua, yaitu sinkronik dan diakronik, yang disederhanakan
dalam tiga periode waktu, yaitu: pra Qur’anik, Qur’anik dan Pasca Qur’anik. Dari
ketiga periode di atas, diketahui bahwa kata thahârah mengalami perubahan yang
cukup signifikan. Kata thahârah Pra Qur’anic bermakna yang lebih cenderung pada
makna bathiniyah, dimana Thahârah diartikan sebagai kesucian hati dan akhlak,
sedangkan pada periode Qur’anic ditemukan makna yang lebih berkembang yakni
selain kesucian diri secara bathiniyah, namun juga kesucian secara lahiriyah, yaitu
menjaga diri dari segala najis dan hadats. Hasil akhir dari pemaknaan Thahârah ialah
menjaga kesucian diri dari segala bentuk kotoran, baik kotoran hati seperti dengki,
syirik, dosa serta keraguan. Ataupun kotoran berupa najis dan hadats, yang harus
dihilangkan ketika akan melaksanakan ibadah.

Item Type: Thesis (Diploma)
Uncontrolled Keywords: Thahârah, Semantik, Toshihiko Izutsu
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > S1 - Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
Depositing User: S.I.P Joko Riyanto
Date Deposited: 17 Feb 2026 04:41
Last Modified: 17 Feb 2026 04:41
URI: https://repositori.stiqisykarima.ac.id/id/eprint/150

Actions (login required)

View Item
View Item