Alnas, Shuri Witra (2021) Konsep Bara’ Pada Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam Dalam Tafsir Asy-Sya’rawi. Diploma thesis, STIQ Isy Karima.
1. Cover.pdf
Download (1MB)
2. BAB I.pdf
Download (324kB)
3. BAB II.pdf
Download (325kB)
4. BAB III.pdf
Download (579kB)
5. BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only
Download (265kB) | Request a copy
6. BAB V.pdf
Restricted to Registered users only
Download (144kB) | Request a copy
7. Daftar Pustaka.pdf
Download (167kB)
Abstract
Barâ’ (berlepas diri) ialah Barâ’ merupakan salah satu dari dua konsekuensi dari
kalimat tauhid Laa ilaha illa Allah. Barâ’ selau dibayangi dengan walâ’, dua hal
ini menuai konsep-konsep tentang loyalitas serta permusuhan yang dibarometeri
oleh rasa cinta dan benci.
Masalah barâ’ merupakan masalah yang begitu lekat dengan kehidupan manusia
sehari-hari tetapi esensinya jauh dari kehidupan umat muslim yang hidup di tengah
kehidupan duniawinya, bahkan orang muslim tidak lagi memandang ini sebagai hal
yang paling penting, khususnya berkaitan dengan persepsi manusia yakni idola dan
life style, dan global culture. Padahal susah ataupun senang hidup seseorang tidak
bisa terlepas dari masalah ini. Hal yang awalnya rancu dan haram untuk dilakukan
di kalangan umat islam lambat laun dan dengan perlahan menjadi kebiasaan, hingga
perbuatan ini dianggap jalan menuju kemajuan.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan maudhû’i
(Tematik) dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Diawali dengan
menentukan tema yang diangkat, mengumpulkan ayat-ayat yang akan dibahas
dengan pecahan-pecahan katanya, mengaitkannya dengan tafsîrnya, mengambil
istinbâth (kesimpulan) hukum dari dalil-dalil yang dikumpulkan.
Adapun sumber primer yang digunakan adalah kitab Tafsîr Tafsîr Asy-Sya’râwî:
Khawâtir Haul Al-Qur’ân Al-Karîm, karya Syaikh Asy-Sya’rawi.
Hasil Analisa dari penelitian ini diketahui bahwa penafsiran perihal barâ’ ini
memiliki satu makna secara garis besar yaitu adalah berlepas diri dari kesyirikan
itu adalah membebaskan diri dari hal yang merusak. Adapun takhliyah adalah
memutus dari amalan yang merusak. Kemudian barganti dengan amalan mushlih,
amalan positif. Juga sudah seharusnya kaum muslim mengidolakan para nabi,
terutama Nabi Ibrahim dalam hal ini yang telah memberikan contoh kepada kita
bagaimana seharusnya esensi cinta dan benci bagi seorang muslim dan mengikuti
manhajnya. Dan dari pemaparan yang telah disampaikan, setidak-tidaknya terdapat
6 poin penting yang harus direalisasikan seorang muslim dikehidupan sekarang ini.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Konsep, Barâ’, Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm, Tafsîr Asy-Sya’râwî. |
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > S1 - Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir |
| Depositing User: | S.I.P Joko Riyanto |
| Date Deposited: | 24 Feb 2026 03:25 |
| Last Modified: | 24 Feb 2026 03:25 |
| URI: | https://repositori.stiqisykarima.ac.id/id/eprint/181 |
