Konsep Bara’ pada Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dalam Tafsîr Asy-Sya’rawi

Alnas, Shuri Witra (2021) Konsep Bara’ pada Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dalam Tafsîr Asy-Sya’rawi. Al Karima: Jurnal Studi Ilmu Al Quran Dan Tafsir, 5 (2). pp. 89-103. ISSN P-ISSN: 2549-3035, E-ISSN: 2829-3703

[thumbnail of Artikel ini merupakan pengembangan dari skripsi dengan judul yang sama yang telah diunggah sebelumnya pada repositori STIQ Isy Karima.] Text (Artikel ini merupakan pengembangan dari skripsi dengan judul yang sama yang telah diunggah sebelumnya pada repositori STIQ Isy Karima.)
Jurnal Shuri Witra Alnas.pdf - Published Version

Download (649kB)

Abstract

Barâ’ (berlepas diri) ialah Barâ’ merupakan salah satu dari dua konsekuensi dari kalimat
tauhid Laa ilaha illa Allah. Barâ’ selau dibayangi dengan walâ’, dua hal ini menuai
konsep-konsep tentang loyalitas serta permusuhan yang dibarometeri oleh rasa cinta dan benci.
Masalah barâ’ merupakan masalah yang begitu lekat dengan kehidupan manusia seharihari tetapi
esensinya jauh dari kehidupan umat muslim yang hidup di tengah kehidupan
duniawinya, bahkan orang muslim tidak lagi memandang ini sebagai hal yang paling penting,
khususnya berkaitan dengan persepsi manusia yakni idola dan life style, dan global culture.
Padahal susah ataupun senang hidup seseorang tidak bisa terlepas dari masalah ini. Hal
yang awalnya rancu dan haram untuk dilakukan di kalangan umat islam lambat laun dan
dengan perlahan menjadi kebiasaan, hingga perbuatan ini dianggap jalan menuju kemajuan.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan maudhû’i (Tematik)
dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Diawali dengan menentukan tema
yang diangkat, mengumpulkan ayat-ayat yang akan dibahas dengan pecahan-pecahan katanya,
mengaitkannya dengan tafsîrnya, mengambil istinbâth (kesimpulan) hukum dari dalil-dalil
yang dikumpulkan.
Adapun sumber primer yang digunakan adalah kitab Tafsîr Tafsîr Asy-Sya’râwî: Khawâtir
Haul Al-Qur’ân Al-Karîm, karya Syaikh Asy-Sya’rawi.
Hasil Analisa dari penelitian ini diketahui bahwa penafsiran perihal barâ’ ini memiliki satu
makna secara garis besar yaitu ada lah berlepas diri dari kesyirikan itu adalah membebaskan
diri dari hal yang merusak. Adapun takhliyah adalah memutus dari amalan yang merusak.
Kemudian barganti dengan amalan mushlih, amalan positif. Juga sudah seharusnya kaum
muslim mengidolakan para nabi, t erutama Nabi Ibrahim dalam hal ini yang telah memberikan
contoh kepada kita bagaimana seharusnya esensi cinta dan benci bagi seorang muslim dan
mengikuti manhajnya. Dan dari pemaparan yang telah disampaikan, setidak-tidaknya terdapat
6 poin penting yang harus direalisasikan seorang muslim dikehidupan sekarang ini.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Konsep, Barâ’, Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm, Tafsîr Asy-Sya’râwî
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > S1 - Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
Depositing User: S.I.P Joko Riyanto
Date Deposited: 24 Feb 2026 04:00
Last Modified: 24 Feb 2026 04:00
URI: https://repositori.stiqisykarima.ac.id/id/eprint/182

Actions (login required)

View Item
View Item